Dalam lanskap pendidikan tinggi yang kian terhubung secara global, istilah internasionalisasi tidak lagi menjadi slogan semata, melainkan sebuah kebutuhan strategis yang bertaut tajam dengan daya saing nasional maupun regional. Ketika kita mengamati kerjasama antarperguruan tinggi lintas negara — seperti antara STIQAS dan USIM — sebuah narasi besar tentang keinginan untuk meningkatkan relevansi pendidikan dalam konteks global mulai tampak semakin jelas.
Ambisi USIM dalam Internasionalisasi
USIM merupakan universitas yang sejak awal dirancang untuk menjadi pusat rujukan global dengan mengintegrasikan ilmu naqli dan aqli (ilmu wahyu dan akal) dalam pendidikan tinggi. Komitmen ini bukan sekadar klausul dalam dokumen misi universitas, tetapi telah menjelma dalam berbagai kolaborasi strategik dengan institusi internasional dan regional. USIM, yang kini menjalin kerja sama akademik dengan berbagai universitas di Indonesia, Afrika, Eropa dan Timur Tengah melalui MoU dan MoA, menunjukkan bagaimana konsep internasionalisasi bukan hanya tentang mobilitas mahasiswa, tetapi juga pertukaran pengetahuan, pengembangan riset bersama, program inklusif, dan platform mobilitas pendidikan yang luas. Universiti Sains Islam Malaysia+1
Melalui keterlibatan dalam berbagai bentuk kegiatan, mulai dari kerja sama pendidikan STEM dengan Cardiff Metropolitan University di Inggris, pembangunan learning centre bersama Universitas Muslim Indonesia (UMI) hingga penyelenggaraan pertemuan pelajar internasional seperti Islamic Global School Network (IGSN), USIM benar-benar membuka ruang pendidikan tinggi untuk beroperasi dalam dimensi global. Universiti Sains Islam Malaysia+1
Langkah USIM ini bukan sekadar mengejar angka ranking atau cap internasional, tetapi juga membangun ujung tombak baru dalam pendidikan Islam yang responsif terhadap kebutuhan dunia modern, termasuk pemberdayaan komunitas yang seringkali berada di pinggiran — seperti penggunaan teknologi robotik untuk pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas. Universiti Sains Islam Malaysia
Gambaran STIQAS: Identitas Lembaga dan Tantangan Internasionalisasi
Sebelum kita menganalisis sinergi strategis, penting memahami identitas STIQAS. Berdasarkan penelisikan terhadap struktur nama serupa di Indonesia (seperti Sekolah Tinggi Ilmu al-Qur’an atau STIQ), lembaga seperti STIQAS umumnya berfokus pada pendidikan tinggi berbasis Qur’ani dan Islam klasik serta kontemporer. Perguruan tinggi semacam itu tumbuh dengan kekhasan kurikulum yang memadukan tafsir, ilmu al-Qur’an, pendidikan karakter dan kearifan lokal yang kuat. stiqisykarima.ac.id
Namun ketika lembaga semacam STIQAS memasuki arena globalisasi pendidikan tinggi, tantangan terbesar bukan hanya ‘menerjemahkan’ kurikulum agar mendapat pengakuan internasional, tetapi juga bagaimana menempatkan nilai-nilai khas tersebut sebagai aset kompetitif di tengah dominasi model pendidikan Barat yang sudah mapan. Hal ini membutuhkan kreativitas akademik, kolaborasi riset, pertukaran budaya, dan kredibilitas akademik yang diakui secara internasional.
Sinergi STIQAS–USIM: Lebih dari Kolaborasi Akademik Biasa
Kerja sama antara STIQAS dan USIM, jika ditelaah dalam konteks internasionalisasi, bukan sekadar bukti jejak kolaboratif melainkan upaya strategis memadukan kekuatan dua dunia pendidikan yang memiliki visi dan filosofi berbeda namun saling melengkapi:
- Perbedaan Fokus yang Justru Menjadi Kekuatan Bersama
STIQAS, dengan fokusnya pada kajian Qur’an dan nilai-nilai Islami yang mendalam, menawarkan kekayaan tradisi pendidikan Islam yang autentik. Di sisi lain, USIM menghadirkan sistem pendidikan yang sudah melebur antara ilmu agama dan sains serta keterlibatan dalam jaringan internasional yang luas. Kombinasi ini bisa menciptakan cross-fertilization akademik yang menarik: tradisi keilmuan bertemu dinamika global. - Akses ke Jaringan Internasional dan Mobilitas Pendidikan
Melalui hubungan strategik USIM dengan berbagai universitas dan lembaga internasional, peluang mahasiswa dan dosen STIQAS untuk memperluas wawasan melalui program pertukaran, seminar internasional, atau riset kolaboratif menjadi sangat nyata. Hal ini berpotensi menjadikan lulusan STIQAS lebih siap bersaing dalam pasar kerja global atau melanjutkan studi di luar negeri. Universiti Sains Islam Malaysia - Integrasi Budaya dan Pembelajaran Multikultural
Kolaborasi ini tidak hanya berdampak pada aspek akademik semata, tetapi juga pengalaman budaya. Ketika mahasiswa STIQAS berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara di kampus USIM, mereka mengalami pembelajaran lintas budaya langsung yang sangat penting untuk kompetensi global abad ke-21. - Penguatan Riset dan Inovasi
Sinergi ini membuka peluang bagi karya riset bersama, terutama dalam bidang pendidikan Islam kontemporer, integrasi ilmu agama dengan sains modern, dan isu-isu sosial global yang relevan dengan komunitas Muslim serta masyarakat luas. Di era di mana jurnal internasional dan penelitian kolaboratif menjadi tolok ukur pengakuan akademik global, kerja sama yang produktif bisa mempercepat pengakuan akademik kedua lembaga di skala internasional.
Hambatan dan Tantangan: Realitas Internasionalisasi
Namun, sinergi yang ideal tentu tidak datang tanpa tantangan. Bagi STIQAS, kendala utama seringkali berkisar pada akreditasi internasional, sumber daya untuk mobilitas akademik, dan kesiapan kurikulum yang memenuhi standar global. Banyak kampus berbasis Islam di Indonesia masih menghadapi dilema antara mempertahankan identitas lokal dan memenuhi tuntutan penyesuaian global.
Sedangkan USIM, meskipun aktif menjalin kolaborasi, masih harus memikirkan bagaimana memastikan bahwa kemitraannya bukan sekadar MoU yang menggantung, melainkan tindakan implementatif yang nyata dan berkelanjutan. Tantangan lain adalah bagaimana mempertahankan keseimbangan antara komitmen ukhrawi dan tuntutan pragmatis dunia akademik internasional — terutama ketika dua nilai itu kadang terasa saling tarik menarik.
Melampaui Klise Internasionalisasi
Bagi banyak perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara, istilah internasionalisasi kerap masih dipahami sebagai label pemasaran atau sekadar target jumlah mahasiswa asing. Namun, pengamatan atas kolaborasi STIQAS–USIM menunjukkan bahwa internasionalisasi yang sejati justru lebih substansial: ia mengubah cara berpikir, kurikulum, pengalaman mahasiswa, serta orientasi riset dan pembelajaran. Ini adalah proses transformatif yang jauh lebih penting daripada angka statistik atau panggung konferensi internasional.
Sudah saatnya pendidikan tinggi Islam di Indonesia seperti STIQAS melihat kerjasama lintas negara sebagai jalan strategis untuk memperluas dampak keilmuan dan memperkaya kualitas lulusan. Kerja sama dengan USIM membuka wawasan bahwa perguruan tinggi Islam bisa menjadi pemain global yang diperhitungkan bukan dengan mengabaikan akar tradisi, tetapi dengan memperkuatnya melalui dialog lintas budaya dan ilmu pengetahuan.
Penutup: Menjadi Agen Global dari Identitas Lokal
Internasionalisasi sejati bukan berarti meninggalkan akar lokal atau mengejar pengakuan pihak luar semata. Ia lahir dari kemampuan sebuah institusi pendidikan untuk mengartikulasikan kekuatan lokalnya ke dalam bahasa global — dan tanpa kehilangan jati diri. Kolaborasi strategis antara STIQAS dan USIM Malaysia menjadi laboratorium nyata dari gagasan ini.
Melalui sinergi yang penuh visi, dua institusi ini sedang memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi Islam mampu beradaptasi dengan dinamika global tanpa kehilangan makna spiritual dan kulturalnya. Inilah narasi baru yang tidak sekadar relevan bagi kedua lembaga, tetapi juga penting bagi masa depan pendidikan Islam di dunia yang semakin terhubung. Dengan komitmen yang konsisten, kolaborasi ini berpotensi menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga berdaya saing global — lulus dari kampus, namun lahir sebagai warga global yang berpijak pada nilai lokal.

