Pendahuluan
Menulis skripsi bertema tafsir dan hadis sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa di perguruan tinggi Islam, termasuk di STIQ As-Sunnah. Tantangan ini muncul karena topik tafsir dan hadis memerlukan ketelitian dalam memahami sumber klasik, kemampuan analisis bahasa Arab, serta penalaran ilmiah yang kuat. Namun, dengan strategi yang tepat, skripsi semacam ini bisa menjadi karya ilmiah yang bernilai tinggi dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu keislaman.
1. Pahami Tujuan Ilmiah dari Penulisan Skripsi
Skripsi bukan sekadar syarat kelulusan, tetapi juga sarana untuk melatih mahasiswa berpikir ilmiah dan sistematis. Dalam konteks tafsir dan hadis, skripsi bertujuan untuk:
- Menelusuri makna ayat atau hadis secara kontekstual.
- Mengkaji relevansi pesan Al-Qur’an dan hadis dengan permasalahan kekinian.
- Menunjukkan kemampuan ilmiah dalam menggabungkan dalil naqli dan aqli.
Mahasiswa STIQ As-Sunnah diajak memahami bahwa skripsi yang baik bukan hanya banyak kutipan, tetapi juga memiliki analisis orisinal dan argumentasi yang kuat.
2. Pilih Tema yang Relevan dan Spesifik
Kesalahan umum mahasiswa adalah memilih tema yang terlalu luas, sehingga pembahasannya menjadi dangkal. Untuk topik tafsir dan hadis, pilihlah tema yang fokus dan aplikatif, misalnya:
- Tafsir:
- “Makna Kesabaran dalam Surah Al-Baqarah: Analisis Tematik”
- “Konsep Kepemimpinan dalam Al-Qur’an menurut Tafsir Ibn Katsir”
- Hadis:
- “Hadis tentang Adab Menuntut Ilmu dalam Kitab Riyadhus Shalihin”
- “Pemahaman Ulama terhadap Hadis Larangan Israf dalam Makan dan Minum”
Tema semacam ini mudah dikelola dan memungkinkan mahasiswa untuk menelusuri makna dengan lebih mendalam.
3. Kuasai Metodologi Penelitian Tafsir dan Hadis
Pendekatan ilmiah dalam skripsi tafsir dan hadis melibatkan metode yang tepat. Beberapa metode yang lazim digunakan di STIQ As-Sunnah antara lain:
a. Metode Tafsir:
- Tafsir Maudhu’i (Tematik): Mengumpulkan ayat-ayat yang membahas satu tema tertentu, lalu dianalisis berdasarkan konteks dan asbabun nuzul.
- Tafsir Tahlili (Analisis Per Ayat): Menafsirkan ayat secara mendalam dari sisi bahasa, konteks, dan penjelasan mufassir klasik.
- Tafsir Muqaran (Perbandingan): Membandingkan penafsiran dari berbagai mufassir untuk melihat perbedaan metodologi.
b. Metode Hadis:
- Takhrij Hadis: Melacak sumber hadis dari kitab-kitab induk seperti Shahih Bukhari, Muslim, atau Sunan.
- Analisis Sanad dan Matan: Meneliti keabsahan periwayatan hadis dan kesesuaian maknanya.
- Pendekatan Maudhu’i Hadis: Mengkaji hadis-hadis dengan tema yang sama untuk menemukan pesan universalnya.
Dengan memahami metode ini, mahasiswa bisa menulis skripsi yang kuat dari sisi ilmiah dan tidak sekadar deskriptif.
4. Gunakan Referensi Klasik dan Modern
Dalam penulisan skripsi tafsir dan hadis, referensi utama adalah sumber-sumber klasik yang otoritatif. Beberapa kitab yang wajib dikenal mahasiswa antara lain:
- Untuk Tafsir: Tafsir Ibn Katsir, Al-Qurthubi, Al-Tabari, dan Al-Maraghi.
- Untuk Hadis: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan Riyadhus Shalihin.
Namun, mahasiswa juga perlu menyeimbangkan dengan literatur modern, seperti jurnal ilmiah, karya akademik, atau buku metodologi penelitian Islam kontemporer. Perpaduan dua jenis referensi ini akan memperkaya argumen ilmiah dalam skripsi.
5. Pelajari Bahasa Arab Secara Mendalam
Bahasa Arab adalah kunci utama dalam memahami teks Al-Qur’an dan hadis. Mahasiswa yang ingin menulis skripsi bertema tafsir dan hadis harus memiliki kemampuan membaca dan menganalisis teks Arab klasik (kitab turats).
Tips penting:
- Biasakan membaca teks Arab tanpa harakat agar terbiasa dengan struktur kalimat.
- Gunakan kamus seperti Al-Mu’jam Al-Wasith untuk menemukan makna asli kata.
- Latih keterampilan menulis kutipan Arab dalam format ilmiah sesuai kaidah transliterasi akademik.
6. Diskusikan dengan Dosen Pembimbing Sejak Awal
Kesuksesan skripsi juga bergantung pada komunikasi yang baik dengan dosen pembimbing. Jangan menunggu revisi datang berulang kali — justru libatkan pembimbing sejak penentuan judul dan metodologi.
Dosen STIQ As-Sunnah umumnya berpengalaman di bidang tafsir dan hadis, sehingga mampu memberikan arahan mengenai:
- Penentuan sumber primer yang sahih.
- Batasan masalah agar penelitian fokus.
- Cara menghindari kesalahan penafsiran.
7. Jaga Konsistensi dan Etika Akademik
Penulisan skripsi Islami harus menjunjung tinggi amanah ilmiah. Hindari plagiat, tulis referensi dengan benar, dan cantumkan sumber asli setiap kutipan.
Gunakan gaya penulisan akademik yang objektif — hindari klaim tanpa dasar dan pastikan setiap pendapat disertai dalil atau argumentasi logis.
Etika akademik juga berarti menjaga niat, karena ilmu yang ditulis dengan ikhlas akan lebih bermanfaat dan diberkahi.
8. Perkuat dengan Analisis Kontekstual
Skripsi tafsir dan hadis yang baik tidak berhenti pada penjelasan teks, tetapi mengaitkannya dengan realitas kekinian. Misalnya:
- Menafsirkan ayat tentang keadilan dalam konteks sosial modern.
- Mengkaji hadis tentang etika bekerja dalam dunia profesional masa kini.
Analisis kontekstual membuat skripsi lebih relevan dan menarik bagi pembaca luas, sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tetap hidup dan aplikatif sepanjang zaman.
Penutup
Menulis skripsi bertema tafsir dan hadis memang menantang, tetapi juga memberi pengalaman spiritual dan intelektual yang mendalam. Dengan memahami metode ilmiah, menjaga niat yang lurus, dan memanfaatkan bimbingan akademik, mahasiswa STIQ As-Sunnah dapat melahirkan karya ilmiah yang tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga menjadi amal jariyah di sisi Allah SWT.
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

