Pendahuluan
Sejarah Islam tidak hanya diwarnai oleh para pemimpin politik atau panglima perang, tetapi juga oleh para ulama yang berjasa besar dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. Mereka bukan sekadar ahli agama, tetapi juga ilmuwan, pendidik, dan reformis yang pemikirannya terus menginspirasi hingga kini.
Bagi mahasiswa dan pendidik di kampus seperti STIQ As-Sunnah, mengenal sosok-sosok ulama besar ini penting untuk meneladani semangat keilmuan, keikhlasan, dan metode pendidikan yang mereka wariskan.
1. Imam Al-Ghazali (1058–1111 M) – Sang Hujjatul Islam
Imam Al-Ghazali, atau nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, adalah salah satu ulama paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Karyanya yang monumental, Ihya’ Ulumuddin, menjadi referensi utama dalam dunia tasawuf, akhlak, dan pendidikan Islam.
Kontribusi:
- Menyatukan antara akal dan wahyu, membuktikan bahwa ilmu agama dan ilmu rasional bisa berjalan beriringan.
- Menekankan pentingnya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dalam proses pendidikan.
- Membangun sistem pendidikan Islam berbasis adab dan niat yang tulus.
Inspirasi bagi Mahasiswa:
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak akan menjerumuskan, sedangkan ilmu dengan keikhlasan akan mengangkat derajat manusia. Mahasiswa harus belajar bukan untuk gelar, tetapi untuk kebaikan diri dan masyarakat.
2. Imam Ibn Khaldun (1332–1406 M) – Bapak Sosiologi Dunia
Nama Abdurrahman Ibn Khaldun dikenal luas sebagai pelopor ilmu sosiologi dan historiografi modern. Melalui karya besarnya, Muqaddimah, ia menjelaskan bagaimana peradaban tumbuh, berkembang, dan runtuh.
Kontribusi:
- Mengembangkan teori tentang peradaban dan pendidikan sosial.
- Mengajarkan pentingnya observasi dan analisis empiris dalam ilmu pengetahuan.
- Menekankan nilai pendidikan moral dan sosial dalam membangun masyarakat beradab.
Inspirasi bagi Mahasiswa:
Ibn Khaldun menunjukkan bahwa Islam tidak anti terhadap sains dan riset sosial. Ia menjadi bukti bahwa seorang Muslim dapat menjadi intelektual global tanpa meninggalkan nilai-nilai Qur’ani.
3. Syaikh Muhammad Abduh (1849–1905 M) – Pembaru Pendidikan Islam
Syaikh Muhammad Abduh adalah ulama asal Mesir yang dikenal sebagai tokoh reformis Islam modern. Ia berjuang untuk memperbarui sistem pendidikan Islam agar lebih relevan dengan tantangan zaman.
Kontribusi:
- Mereformasi Al-Azhar University agar mengajarkan ilmu modern bersama ilmu agama.
- Menolak fanatisme buta dan menyerukan ijtihad (penggunaan akal sehat dalam memahami agama).
- Mendorong lahirnya generasi muda Muslim yang berpikir kritis dan progresif.
Inspirasi bagi Mahasiswa:
Abduh mengajarkan bahwa umat Islam tidak boleh puas dengan hafalan, tetapi harus memahami substansi ilmu. Di STIQ As-Sunnah, semangat reformasi Abduh relevan untuk menggabungkan hafalan Al-Qur’an dengan pemikiran ilmiah yang solutif.
4. Imam Syafi’i (767–820 M) – Peletak Dasar Ilmu Fiqh Modern
Imam Syafi’i, pendiri mazhab Syafi’i, dikenal karena kecerdasannya dalam menyusun kaidah ushul fiqh yang menjadi dasar hukum Islam hingga kini. Ia juga dikenal sebagai ulama yang menghafal Al-Qur’an sejak kecil dan menguasai hadis serta bahasa Arab dengan sempurna.
Kontribusi:
- Menulis kitab Ar-Risalah, karya pertama yang membahas sistematika ushul fiqh.
- Mendorong integrasi antara dalil Al-Qur’an, hadis, dan rasionalitas hukum.
- Menanamkan nilai adab dalam belajar, seperti menghormati guru dan menjaga lisan.
Inspirasi bagi Mahasiswa:
Imam Syafi’i membuktikan bahwa disiplin dan adab adalah kunci kesuksesan menuntut ilmu. Mahasiswa masa kini perlu meneladani kedisiplinan beliau dalam membaca, menulis, dan berargumen dengan santun.
5. Syaikh Yusuf Al-Qaradawi (1926–2022 M) – Cendekiawan Islam Kontemporer
Sebagai salah satu ulama besar abad ke-20, Yusuf Al-Qaradawi dikenal karena pemikiran moderat dan kontribusinya dalam pendidikan Islam global. Ia menulis lebih dari 170 buku tentang fiqh, dakwah, dan pendidikan.
Kontribusi:
- Mempopulerkan konsep Fiqh Al-Waqi’ (fiqh kontekstual) agar hukum Islam bisa diterapkan sesuai zaman.
- Membangun lembaga pendidikan Islam yang menekankan keseimbangan antara aqidah, akhlak, dan ilmu pengetahuan.
- Mendorong dialog antarmazhab dan toleransi antarumat.
Inspirasi bagi Mahasiswa:
Al-Qaradawi mengajarkan bahwa Islam harus tampil dinamis, moderat, dan relevan. Mahasiswa STIQ As-Sunnah dapat meneladani sikap terbuka beliau dalam berdakwah tanpa meninggalkan prinsip Al-Qur’an dan Sunnah.
Penutup
Kelima ulama di atas adalah contoh nyata bahwa Islam memiliki tradisi keilmuan yang luar biasa. Mereka bukan hanya ahli agama, tetapi juga pemikir, reformis, dan pendidik sejati.
Sebagai mahasiswa Muslim, meneladani semangat keilmuan para ulama ini berarti melanjutkan estafet peradaban Islam — menjadi insan berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi umat.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)

