Motivasi Belajar dari Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Kesabaran dan Ketekunan

Motivasi Belajar dari Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Kesabaran dan Ketekunan

Pendahuluan

Belajar adalah proses panjang yang membutuhkan perjuangan, pengorbanan, dan kesabaran. Tidak jarang seorang mahasiswa mengalami rasa lelah, jenuh, bahkan ingin menyerah di tengah perjalanan menuntut ilmu. Namun, Al-Qur’an — sebagai sumber petunjuk dan inspirasi kehidupan — memberikan banyak motivasi agar setiap Muslim tetap tekun dan sabar dalam belajar.
Kesabaran bukan hanya menahan diri dari keluh kesah, tetapi juga kemampuan untuk tetap istiqamah di jalan ilmu meski penuh ujian.


1. Kesabaran: Kunci Kesuksesan dalam Menuntut Ilmu

Allah SWT berfirman:

“Dan bersabarlah engkau, sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Hud: 115)

Ayat ini menegaskan bahwa kesabaran adalah bagian dari amal kebaikan yang dijanjikan balasan besar. Dalam konteks menuntut ilmu, kesabaran berarti tetap berusaha memahami pelajaran, mengulang hafalan, dan menghadapi ujian tanpa mengeluh.
Setiap langkah belajar yang dilakukan dengan sabar akan dicatat sebagai ibadah, bahkan ketika hasilnya belum terlihat secara langsung.


2. Belajar dari Teladan Nabi Musa AS

Nabi Musa AS dikenal sebagai sosok yang gigih dalam mencari ilmu. Dalam kisahnya bersama Nabi Khidir (QS. Al-Kahfi: 60–82), kita menemukan pelajaran penting tentang kesabaran dalam proses belajar.

“Engkau sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku.”
(QS. Al-Kahfi: 67)

Ayat ini menggambarkan tantangan yang dihadapi seorang penuntut ilmu. Tidak semua hal dapat dipahami seketika; sebagian ilmu membutuhkan waktu, pengalaman, dan bimbingan.
Mahasiswa perlu meneladani Nabi Musa — tidak berhenti bertanya, tidak cepat puas, dan tidak mudah menyerah. Karena ilmu sejati hanya diberikan kepada mereka yang sabar dan terus berusaha.


3. Ketekunan dalam Belajar: Refleksi dari QS. Al-Ankabut: 69

Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-Ankabut: 69)

Ayat ini menegaskan pentingnya mujahadah (kesungguhan) dalam mencari ilmu. Ketekunan bukan sekadar rajin belajar, tetapi juga berani mengatasi rintangan seperti rasa malas, kesibukan, atau kegagalan.
Allah menjanjikan petunjuk bagi siapa pun yang berjuang dengan sungguh-sungguh — termasuk dalam studi, hafalan, dan riset ilmiah.
Setiap upaya menulis skripsi, membaca kitab, atau menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dengan niat ikhlas akan mendapatkan bimbingan langsung dari Allah.


4. Motivasi dari QS. Az-Zumar: 9

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
(QS. Az-Zumar: 9)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kedudukan orang berilmu sangat tinggi di sisi Allah.
Ilmu bukan hanya tentang kepintaran intelektual, tetapi juga tentang keikhlasan dan pengamalan.
Ayat ini mendorong mahasiswa untuk terus belajar, tidak merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki, dan menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan.


5. Meneladani Kesabaran Ulama dalam Menuntut Ilmu

Para ulama terdahulu adalah teladan nyata dalam hal kesabaran dan ketekunan.

  • Imam Ahmad bin Hanbal rela berjalan ribuan kilometer demi mendapatkan satu hadis.
  • Imam Bukhari menulis Shahih Al-Bukhari setelah bertahun-tahun mengumpulkan dan meneliti sanad hadis dengan penuh kehati-hatian.
  • Imam Syafi’i belajar siang malam hingga hafal Al-Muwaththa’ karya Imam Malik di usia muda.

Kesabaran mereka bukan hanya dalam belajar, tetapi juga dalam menghadapi ujian hidup.
Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan dalam ilmu bukan hasil instan, melainkan buah dari ketekunan, keikhlasan, dan doa yang panjang.


6. Kesabaran Menghadapi Kegagalan dan Ujian

Mahasiswa sering kali menghadapi kegagalan — nilai ujian rendah, hafalan lupa, atau penelitian terhenti di tengah jalan.
Namun Allah mengingatkan dalam QS. Al-Insyirah: 5–6:

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Ayat ini memberikan harapan bahwa setiap kegagalan hanyalah jalan menuju keberhasilan berikutnya.
Selama seseorang tetap berusaha dan tidak berhenti berdoa, Allah akan memberikan jalan keluar terbaik di waktu yang tepat.


7. Doa Sebagai Sumber Kekuatan dalam Belajar

Belajar tanpa doa seperti berlayar tanpa arah.
Rasulullah SAW mengajarkan doa agar dimudahkan dalam menuntut ilmu:

“Ya Allah, berilah aku pemahaman seperti pemahaman para nabi dan hafalan seperti hafalan para rasul-Mu, serta ilham para malaikat-Mu yang dekat dengan-Mu.”

Doa bukan hanya permintaan, tetapi juga bentuk ketundukan dan pengakuan bahwa keberhasilan datang dari Allah semata.
Mahasiswa yang membiasakan diri berdoa sebelum belajar akan lebih tenang, fokus, dan dilapangkan hatinya.


8. Kesabaran sebagai Ciri Orang Berilmu

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan yakin terhadap ayat-ayat Kami.”
(QS. As-Sajdah: 24)

Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran adalah syarat menjadi pemimpin ilmu.
Tanpa sabar, seseorang akan mudah menyerah di tengah jalan.
Dengan sabar, ilmu akan tumbuh dan berkembang bersama kedewasaan spiritual.


Penutup

Belajar dengan sabar dan tekun bukan hanya tentang mencapai nilai akademik, tetapi tentang membangun karakter yang kokoh di hadapan Allah.
Setiap lembar buku yang dibaca, setiap ayat yang dihafal, dan setiap malam tanpa tidur adalah bagian dari ibadah.
Mahasiswa STIQ As-Sunnah diajak untuk menjadikan kesabaran sebagai identitas dan ketekunan sebagai bekal menuju kesuksesan dunia dan akhirat.

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *