Adab Menuntut Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali: Relevansinya di Zaman Sekarang

Adab Menuntut Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali: Relevansinya di Zaman Sekarang

Pendahuluan

Dalam dunia pendidikan Islam, adab selalu menjadi fondasi utama sebelum ilmu. Tanpa adab, ilmu bisa kehilangan berkah dan mengarahkan manusia kepada kesombongan intelektual. Salah satu ulama besar yang menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (1058–1111 M), yang dikenal sebagai Hujjatul Islam (Pembela Islam).
Pemikiran beliau tentang adab menuntut ilmu tertuang dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulumuddin, yang hingga kini menjadi pedoman bagi para pencari ilmu di seluruh dunia — termasuk bagi mahasiswa kampus Qur’ani seperti STIQ As-Sunnah.


1. Niat yang Ikhlas: Fondasi Utama Ilmu

Menurut Imam Al-Ghazali, menuntut ilmu harus dimulai dengan niat yang tulus karena Allah SWT, bukan demi pujian, jabatan, atau kekayaan. Ilmu tanpa keikhlasan hanya akan melahirkan kesombongan.

“Barang siapa menuntut ilmu untuk bersaing dengan ulama lain, atau untuk menarik perhatian orang kepadanya, maka tempatnya adalah di neraka.”
(HR. Tirmidzi)

Di era modern, banyak orang belajar demi popularitas atau konten media sosial. Pandangan Imam Al-Ghazali menjadi peringatan agar generasi sekarang mengembalikan niat belajar kepada tujuan sejati — mendekatkan diri kepada Allah dan bermanfaat bagi umat.


2. Menjaga Adab terhadap Guru

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa guru adalah perantara ilmu dan keberkahan.
Seorang murid harus menghormati guru dengan sepenuh hati — baik di hadapan maupun di belakangnya.
Beberapa etika yang ditekankan beliau antara lain:

  • Tidak berjalan di depan guru tanpa izin.
  • Tidak mengangkat suara di hadapan guru.
  • Tidak menyela pembicaraan guru.
  • Tidak merasa lebih pintar meski memiliki pandangan berbeda.

Dalam konteks sekarang, menghormati guru berarti juga menghargai waktu, mengikuti etika akademik, dan tidak menyepelekan ilmu yang disampaikan. Mahasiswa STIQ As-Sunnah diajarkan bahwa barakah ilmu sering datang bukan dari banyaknya catatan, tetapi dari hormatnya murid terhadap gurunya.


3. Kesungguhan dan Disiplin dalam Belajar

Imam Al-Ghazali berkata,

“Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan kesungguhan dan kerja keras.”

Beliau mencontohkan murid-murid zaman dahulu yang belajar dengan tekun meski harus menempuh jarak jauh, hidup sederhana, dan menghafal ribuan hadis tanpa teknologi.
Di zaman sekarang, fasilitas belajar semakin mudah — dari e-book hingga kuliah daring — namun justru sering membuat mahasiswa lalai dan cepat bosan.
Semangat kesungguhan (jiddiyyah) dan disiplin ala Al-Ghazali perlu dihidupkan kembali agar mahasiswa mampu menjaga konsistensi dalam menuntut ilmu.


4. Menjauhi Dosa dan Maksiat

Menurut Imam Al-Ghazali, dosa adalah penghalang terbesar bagi datangnya ilmu.
Hati yang kotor tidak bisa menerima cahaya pengetahuan. Beliau mengutip kisah Imam Syafi’i yang mengeluh kepada gurunya, Waki’, tentang lemahnya hafalan, dan gurunya menjawab:

“Tinggalkanlah maksiat, karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”

Pesan ini sangat relevan di zaman sekarang, di mana godaan dunia digital begitu besar — tontonan, hiburan berlebihan, dan interaksi yang tidak bermanfaat dapat mengikis keberkahan ilmu.
Mahasiswa Muslim harus menjaga pandangan, lisan, dan waktu agar hatinya tetap bersih menerima hikmah.


5. Mengamalkan Ilmu yang Dipelajari

Bagi Imam Al-Ghazali, ilmu yang tidak diamalkan sama seperti pohon yang tidak berbuah.
Ilmu harus melahirkan perubahan perilaku, bukan sekadar wawasan. Ia berkata:

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan.”

Oleh karena itu, mahasiswa harus menjadikan setiap pelajaran sebagai pedoman hidup.
Jika belajar Al-Qur’an, maka jadikan ia sebagai pembimbing akhlak.
Jika belajar hadis, jadikan Rasulullah sebagai teladan.
Jika belajar fiqh, jadikan hukum Islam sebagai penjaga moralitas.


6. Menjaga Waktu dan Fokus

Imam Al-Ghazali terkenal disiplin dalam mengatur waktu. Beliau menulis,

“Waktu adalah kehidupan. Jika engkau menyia-nyiakannya, maka sesungguhnya engkau telah menyia-nyiakan hidupmu.”

Di era modern, tantangan terbesar mahasiswa bukan kekurangan waktu, melainkan banyaknya distraksi.
Media sosial, hiburan daring, dan gaya hidup multitasking membuat fokus belajar menurun.
Maka, meneladani Al-Ghazali berarti belajar untuk mengelola waktu dengan cerdas, memanfaatkan setiap jam untuk hal yang mendekatkan diri kepada Allah dan menambah ilmu bermanfaat.


7. Rendah Hati dalam Ilmu

Salah satu ciri ulama sejati menurut Imam Al-Ghazali adalah kerendahan hati.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar rasa takutnya kepada Allah.
Kesombongan akademik hanya akan menghapus berkah ilmu.
Mahasiswa STIQ As-Sunnah diajarkan untuk menjadi ilmuwan Qur’ani yang berilmu dan tawadhu’, bukan haus pengakuan atau debat tanpa manfaat.

“Tanda ilmu yang bermanfaat adalah semakin bertambahnya rasa takut kepada Allah.”
(Imam Al-Ghazali)


8. Mencari Ilmu Sepanjang Hayat

Imam Al-Ghazali menolak anggapan bahwa menuntut ilmu berhenti setelah lulus atau tua. Baginya, ilmu adalah perjalanan seumur hidup.
Beliau menulis,

“Carilah ilmu sejak engkau masih bayi hingga menjelang ajal.”

Pesan ini relevan di zaman sekarang, di mana ilmu berkembang pesat dan umat Islam dituntut untuk terus belajar — baik ilmu agama maupun ilmu umum — agar mampu berkontribusi bagi kemajuan umat.


Penutup

Pemikiran Imam Al-Ghazali tentang adab menuntut ilmu tetap relevan bahkan di era digital.
Di tengah kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi, adab menjadi penyaring yang menjaga agar ilmu tidak kehilangan nilai spiritualnya.
Mahasiswa STIQ As-Sunnah dan seluruh generasi muda Muslim perlu meneladani prinsip Al-Ghazali: belajar dengan niat yang ikhlas, menghormati guru, menjaga hati, dan mengamalkan ilmu demi mencari ridha Allah semata.

“Ilmu itu tidak akan memberikan sebagian dari dirinya kepadamu, sampai engkau memberikan seluruh dirimu untuknya.”
— Imam Al-Ghazali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *