Etika Berdiskusi dan Berbeda Pendapat Menurut Perspektif Islam

Etika Berdiskusi dan Berbeda Pendapat Menurut Perspektif Islam

Pendahuluan

Dalam kehidupan akademik dan sosial, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar — bahkan menjadi tanda adanya dinamika dan kemajuan pemikiran. Namun, ketika perbedaan tidak diiringi dengan adab dan etika, ia bisa berubah menjadi pertikaian dan permusuhan.
Islam, sebagai agama yang sempurna, telah mengatur adab berdiskusi dan berdebat dengan cara yang santun, berlandaskan ilmu, dan menjunjung tinggi kebenaran.
Bagi mahasiswa, khususnya di lingkungan STIQ As-Sunnah, memahami etika ini sangat penting agar perbedaan pemikiran tidak memecah ukhuwah, tetapi justru memperkaya wawasan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.


1. Perbedaan Pendapat adalah Keniscayaan

Allah SWT menciptakan manusia dengan akal dan cara pandang yang berbeda.
Oleh karena itu, perbedaan dalam memahami sesuatu adalah fitrah yang tidak bisa dihindari.

“Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”
(QS. Hud: 118)

Islam tidak melarang perbedaan, selama perbedaan itu tidak menyimpang dari prinsip dasar aqidah dan syariat.
Yang dilarang adalah fanatisme dan kebencian terhadap orang yang berbeda pendapat.


2. Berdiskusi untuk Mencari Kebenaran, Bukan Kemenangan

Diskusi dalam Islam bukan ajang adu argumen, melainkan upaya bersama menemukan kebenaran.
Rasulullah SAW bersabda:

“Aku menjamin rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.”
(HR. Abu Dawud)

Hadis ini mengajarkan bahwa tujuan utama berdiskusi adalah mencari ridha Allah, bukan sekadar membuktikan siapa yang paling pintar.
Mahasiswa yang berilmu seharusnya rendah hati dan siap menerima kebenaran dari siapa pun, meskipun datang dari orang yang lebih muda atau berbeda pandangan.


3. Adab dan Etika dalam Berdiskusi

Islam sangat menekankan pentingnya adab dalam berdiskusi. Berikut prinsip-prinsip utama yang harus dijaga:

a. Niat yang Ikhlas

Diskusi harus dilakukan karena Allah, untuk menegakkan kebenaran dan menyebarkan ilmu.
Jauhi niat mencari popularitas, menghinakan lawan, atau memancing emosi.

b. Gunakan Bahasa yang Sopan

Allah berfirman:

“Dan katakanlah kepada manusia perkataan yang baik.”
(QS. Al-Baqarah: 83)

Ucapan yang lembut lebih mudah menyentuh hati dan menghindarkan permusuhan.
Hindari kata-kata kasar, sarkas, atau sindiran tajam yang menyinggung perasaan lawan bicara.

c. Tidak Memotong Pembicaraan

Mendengarkan adalah bagian dari adab.
Rasulullah SAW tidak pernah memotong pembicaraan seseorang sampai orang itu selesai berbicara.
Ini menunjukkan penghormatan dan kesabaran dalam berdialog.

d. Hindari Sikap Merendahkan

Tidak ada yang lebih buruk dari merasa diri paling benar dan menyepelekan pendapat orang lain.
Islam mengajarkan tawadhu’ (rendah hati) dan menghargai setiap pandangan selama berlandaskan ilmu.

e. Berdasarkan Dalil, Bukan Emosi

Setiap pendapat harus disertai dalil yang jelas dari Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama.
Tanpa dalil, diskusi hanya menjadi debat kosong yang tidak membawa manfaat.


4. Contoh Teladan dari Para Ulama

Perbedaan pendapat di kalangan ulama klasik adalah hal biasa, tetapi mereka tetap saling menghormati.
Contohnya:

  • Imam Malik dan Imam Syafi’i berbeda dalam banyak masalah fiqh, namun Imam Syafi’i tetap berkata: “Ketika disebut nama Imam Malik, maka aku menyebutnya dengan penuh hormat.”
  • Imam Abu Hanifah pernah berbeda dengan Imam Ja’far Ash-Shadiq, namun mereka tetap bersahabat erat.

Perbedaan di antara mereka tidak melahirkan kebencian, tetapi justru memperkaya khazanah keilmuan Islam.
Sikap ini perlu dicontoh oleh mahasiswa agar tidak mudah menghakimi, terutama dalam isu-isu fiqh dan sosial yang memiliki ragam pendapat.


5. Etika Berbeda Pendapat di Era Digital

Di zaman media sosial, perbedaan sering kali berubah menjadi perdebatan terbuka yang berujung pada caci maki.
Mahasiswa Muslim harus menjadi teladan dengan menjaga adab berdiskusi di dunia maya:

  • Jangan menulis komentar dengan emosi.
  • Hindari debat panjang yang tidak bermanfaat.
  • Jika pembahasan sudah memanas, lebih baik diam.

Imam Asy-Syafi’i berkata:
“Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali aku berharap Allah menampakkan kebenaran melalui lisannya.”

Itulah sikap seorang ilmuwan sejati — menghargai kebenaran di mana pun ia berada.


6. Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak merendahkannya.”
(HR. Muslim)

Perbedaan pendapat tidak boleh merusak ukhuwah Islamiyah.
Mahasiswa STIQ As-Sunnah diajarkan untuk memandang perbedaan sebagai rahmat, bukan ancaman.
Karena dari perbedaan, muncul dialog, pemahaman, dan inovasi baru dalam dakwah dan pendidikan Islam.


7. Cara Menyikapi Perbedaan yang Tajam

Tidak semua perbedaan bisa disatukan, tetapi semuanya bisa disikapi dengan bijak.
Berikut panduan praktis dalam menghadapi perbedaan:

  • Fokus pada titik persamaan, bukan perbedaan.
  • Jika terjadi perbedaan tajam, kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
  • Jika masih berbeda, serahkan kepada ahlinya.
  • Hindari fanatisme golongan atau madzhab.

“Jika kamu berselisih dalam sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir.”
(QS. An-Nisa: 59)


8. Diskusi Sebagai Sarana Tumbuhnya Ilmu

Perbedaan pendapat bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk menumbuhkan ilmu dan memperkaya wawasan.
Diskusi yang sehat membuat mahasiswa:

  • Berpikir kritis.
  • Menghargai pendapat orang lain.
  • Tidak mudah fanatik buta.
  • Mampu berargumentasi dengan sopan dan ilmiah.

Kampus STIQ As-Sunnah menjadi ruang terbaik untuk menumbuhkan budaya ilmiah seperti ini — berdiskusi dengan adab, bukan ego.


Penutup

Islam mengajarkan keseimbangan antara akal dan adab.
Perbedaan pendapat adalah rahmat, bukan sumber perpecahan.
Bagi mahasiswa Muslim, berdiskusi dengan sopan, ilmiah, dan berlandaskan niat yang ikhlas adalah bentuk ibadah yang menghidupkan tradisi keilmuan Islam.
Mari jadikan perbedaan sebagai ladang pahala, bukan pertikaian.

“Dan janganlah perbedaanmu menyebabkan hati kalian bercerai-berai, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersatu di atas kebenaran.”
(QS. Al-Anfal: 46)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *