Peran Mahasiswa STIQ dalam Menyebarkan Nilai-Nilai Islam di Masyarakat

Peran Mahasiswa STIQ dalam Menyebarkan Nilai-Nilai Islam di Masyarakat

Pendahuluan

Mahasiswa bukan hanya agen perubahan (agent of change), tetapi juga penerus perjuangan dakwah Islam di tengah masyarakat.
Khususnya bagi mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) As-Sunnah, peran ini lebih besar lagi karena mereka tidak hanya dibekali ilmu akademik, tetapi juga nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah sebagai panduan hidup.
Dalam konteks modern, mahasiswa STIQ memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjadi teladan, pendidik, dan penggerak nilai-nilai Islam di tengah perubahan sosial yang serba cepat.


1. Mahasiswa STIQ Sebagai Cermin Nilai-Nilai Islam

Setiap perilaku mahasiswa STIQ adalah representasi dari nilai-nilai Islam yang mereka pelajari.
Mulai dari tutur kata, sikap disiplin, hingga cara berpakaian — semua menjadi bentuk dakwah yang hidup.
Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dakwah tidak selalu dilakukan melalui ceramah; sering kali, akhlak yang baik lebih kuat pengaruhnya daripada seribu kata.
Mahasiswa STIQ diharapkan menjadi contoh nyata dalam kesantunan, kejujuran, dan kerja keras di mana pun mereka berada — baik di kampus, tempat kerja, maupun lingkungan sosial.


2. Menyebarkan Nilai Islam Melalui Dakwah Ilmiah

Mahasiswa STIQ dibekali kemampuan ilmu tafsir, hadis, fiqh, dan bahasa Arab yang menjadi modal besar dalam berdakwah dengan landasan ilmiah.
Mereka dapat berkontribusi melalui:

  • Kajian rutin di masjid atau kampung.
  • Pelatihan membaca Al-Qur’an untuk anak-anak dan remaja.
  • Penulisan artikel atau konten islami di media sosial.

Melalui pendekatan ilmiah dan santun, nilai-nilai Islam bisa disampaikan dengan hikmah dan argumentasi rasional, sesuai perintah Allah:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)


3. Mahasiswa STIQ sebagai Pendidik dan Pembimbing

Pendidikan Islam tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di tengah masyarakat.
Mahasiswa STIQ memiliki potensi besar menjadi pendidik Qur’ani — mengajarkan ilmu agama dengan pendekatan yang lembut dan relevan dengan zaman.

Contoh bentuk kontribusi mereka:

  • Menjadi guru ngaji di desa.
  • Membimbing anak muda memahami adab dan akidah yang benar.
  • Membina masyarakat dalam program Majelis Taklim atau TPQ.

Dengan cara ini, mahasiswa STIQ berperan nyata dalam membangun generasi Muslim yang berilmu dan berakhlak.


4. Menjadi Penggerak Sosial Berbasis Akhlak Islami

Dakwah Islam tidak hanya berbentuk ceramah, tetapi juga aksi sosial.
Mahasiswa STIQ dapat menebarkan nilai Islam melalui kegiatan nyata seperti:

  • Bakti sosial di desa terpencil.
  • Penggalangan donasi untuk korban bencana.
  • Mengadakan program pendidikan gratis untuk masyarakat miskin.

Nilai-nilai seperti ukhuwah (persaudaraan), rahmah (kasih sayang), dan amanah (tanggung jawab) menjadi prinsip utama yang mereka bawa.
Dengan demikian, Islam tampil sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).


5. Menghadapi Tantangan Dakwah di Era Digital

Era digital membuka peluang besar untuk dakwah, tetapi juga menghadirkan tantangan baru.
Banyak informasi keagamaan yang tidak akurat atau bahkan menyesatkan beredar di media sosial.
Mahasiswa STIQ perlu menjadi filter dan pencerah di dunia digital — menyebarkan konten Islami yang akurat, inspiratif, dan sejuk.

Langkah nyata yang bisa dilakukan:

  • Membuat video kajian singkat di YouTube atau TikTok.
  • Menulis artikel reflektif tentang nilai-nilai Qur’ani.
  • Mengelola akun dakwah kampus yang interaktif.

Dengan kreativitas dan ilmu yang kuat, mereka dapat menjangkau generasi muda yang haus akan kebenaran.


6. Peran Mahasiswa STIQ dalam Menangkal Paham Menyimpang

Salah satu tantangan besar umat Islam masa kini adalah munculnya berbagai paham yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni.
Mahasiswa STIQ — yang berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para salaf — memiliki tanggung jawab untuk meluruskan pemahaman umat secara bijak.

Melalui dakwah yang lembut dan berbasis ilmu, mereka dapat:

  • Menjelaskan kesalahan pemikiran dengan argumentasi ilmiah.
  • Menyebarkan pemahaman Islam yang seimbang dan moderat.
  • Menjadi penengah di tengah perpecahan umat.

Sikap ini penting agar dakwah Islam tetap membawa kedamaian, bukan perpecahan.


7. Mahasiswa STIQ Sebagai Teladan di Tengah Masyarakat

Kekuatan dakwah mahasiswa bukan hanya pada ilmunya, tetapi pada keteladanan pribadi.
Ketika masyarakat melihat mahasiswa STIQ rajin shalat berjamaah, sopan dalam berbicara, dan aktif dalam kegiatan sosial, mereka akan menghormati dan meniru perilaku tersebut.
Itulah hakikat dakwah bil hal — dakwah dengan tindakan nyata.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”
(HR. Bukhari)

Ini menunjukkan bahwa setiap Muslim, termasuk mahasiswa, bisa berdakwah sesuai kemampuannya, asalkan dengan niat dan adab yang benar.


8. Menjaga Konsistensi dan Keikhlasan dalam Berdakwah

Dakwah adalah perjalanan panjang. Tidak semua respon masyarakat akan baik.
Kadang ditolak, dicemooh, bahkan diabaikan. Namun seorang dai sejati tetap sabar dan ikhlas.
Allah SWT berfirman:

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”
(QS. Hud: 115)

Mahasiswa STIQ harus menjaga semangat dakwah bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ingin menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di hati manusia.
Keikhlasan adalah bahan bakar yang akan menjaga api dakwah tetap menyala.


Penutup

Mahasiswa STIQ As-Sunnah memiliki posisi istimewa sebagai pewaris dakwah Rasulullah SAW di zaman modern.
Dengan ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, mereka bisa menjadi cahaya bagi masyarakat — bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat keteladanan dan aksi nyata.
Dunia saat ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga orang berilmu yang berakhlak Qur’ani.

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali Imran: 104)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *