Urgensi Ilmu Bahasa Arab dalam Memahami Al-Qur’an dan Sunnah

Urgensi Ilmu Bahasa Arab dalam Memahami Al-Qur’an dan Sunnah

Pendahuluan

Al-Qur’an dan Sunnah adalah sumber utama ajaran Islam. Namun, keduanya diturunkan dalam bahasa Arab yang memiliki struktur dan makna yang dalam.
Oleh karena itu, siapa pun yang ingin memahami Islam secara utuh harus memiliki dasar yang kuat dalam ilmu bahasa Arab.
Mahasiswa STIQ As-Sunnah sebagai calon ulama, pendidik, dan dai, perlu menyadari bahwa penguasaan bahasa Arab bukan sekadar keterampilan akademik, tetapi juga bentuk ibadah dan kunci memahami firman Allah.


1. Bahasa Arab: Bahasa Wahyu dan Peradaban Islam

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”
(QS. Yusuf: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an dipilih Allah dalam bahasa Arab bukan tanpa alasan.
Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya, detail, dan memiliki struktur yang sempurna untuk menyampaikan makna yang dalam.
Melalui bahasa Arab, umat Islam mampu memahami pesan wahyu secara akurat dan menjaga kemurniannya dari perubahan.

Selain sebagai bahasa wahyu, bahasa Arab juga menjadi bahasa ilmu dan peradaban Islam selama berabad-abad.
Buku-buku klasik para ulama, seperti karya Imam Bukhari, Imam Nawawi, dan Ibnu Katsir, semuanya ditulis dalam bahasa Arab — menandakan kedudukannya sebagai bahasa ilmiah Islam.


2. Bahasa Arab Sebagai Kunci Memahami Al-Qur’an

Bahasa Arab bukan hanya media komunikasi, tetapi kunci pembuka makna Al-Qur’an.
Tanpa memahaminya, seseorang hanya membaca lafaz tanpa menangkap pesan di baliknya.
Misalnya, kata “taqwa” sering diterjemahkan sebagai “takut,” padahal makna sebenarnya lebih luas: menjaga diri dari murka Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Mahasiswa yang memahami bahasa Arab dapat:

  • Menafsirkan ayat sesuai konteksnya.
  • Membedakan makna literal dan majazi.
  • Menghindari kesalahpahaman dalam pemaknaan ayat.

Imam Asy-Syafi’i berkata:
“Tidaklah seseorang memahami Al-Qur’an kecuali yang menguasai bahasa Arab.”


3. Bahasa Arab sebagai Kunci Memahami Hadis

Selain Al-Qur’an, hadis Nabi SAW juga berbahasa Arab.
Banyak kesalahpahaman dalam memahami hadis muncul karena kurangnya penguasaan bahasa.
Contoh sederhana:
Hadis tentang “ghadib” (marah) dan “quwwah” (kekuatan) memiliki konteks yang dalam, dan hanya bisa dipahami dengan memahami gramatika serta gaya bahasa Arab.

Ilmu bahasa Arab membantu mahasiswa memahami:

  • Makna literal dan kiasan hadis.
  • Struktur kalimat yang mempengaruhi hukum fiqh.
  • Balaghah (keindahan bahasa) dalam sabda Rasulullah.

4. Ilmu Bahasa Arab yang Harus Dipelajari

Untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah secara mendalam, ada beberapa cabang ilmu bahasa Arab yang penting:

a. Nahwu (Tata Bahasa)

Menjelaskan fungsi kata dalam kalimat.
Contoh: perbedaan harakat bisa mengubah makna hukum, seperti dalam ayat:

“Innallaha bari’un minal musyrikina wa rasuluhu”
(QS. At-Taubah: 3)
Kesalahan harakat pada kata rasuluhu bisa mengubah arti menjadi kufur!

b. Sharaf (Perubahan Bentuk Kata)

Menjelaskan pola perubahan kata dan maknanya.
Contoh: kataba (menulis), maktub (tertulis), kitab (buku).
Dengan memahami sharaf, kita bisa menangkap makna asal kata dalam konteks ayat.

c. Balaghah (Retorika dan Keindahan Bahasa)

Membantu memahami keindahan dan kedalaman makna Al-Qur’an.
Contohnya, penggunaan metafora, penekanan, dan gaya bahasa yang menggugah hati.

d. Lughah (Kosakata dan Etimologi)

Memahami arti kata berdasarkan asalnya dan penggunaannya dalam konteks Arab klasik.


5. Bahasa Arab sebagai Penguat Aqidah dan Dakwah

Bahasa Arab bukan hanya alat akademik, tetapi juga alat dakwah dan penjaga aqidah.
Dengan menguasainya, mahasiswa dapat:

  • Menyampaikan dakwah sesuai dengan nash yang sahih.
  • Membantah syubhat atau pemikiran sesat dengan dalil yang benar.
  • Menjadi jembatan antara ilmu klasik dan masyarakat modern.

Seorang dai yang fasih berbahasa Arab mampu mengutip dalil secara langsung tanpa ketergantungan pada terjemahan yang bisa saja tidak akurat.


6. Bahasa Arab Menumbuhkan Kecintaan kepada Al-Qur’an

Semakin seseorang memahami bahasa Arab, semakin ia menikmati bacaan Al-Qur’an.
Setiap kata terasa hidup dan bermakna.
Misalnya, ayat tentang rahmat, ampunan, dan kebesaran Allah menjadi lebih menyentuh ketika dipahami dalam bahasa aslinya.
Inilah yang dimaksud oleh para ulama dengan “dzauq al-Qur’an” — rasa spiritual yang muncul dari pemahaman makna langsung.

“Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezekinya… mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.”
(QS. Fathir: 29)


7. Tantangan Mahasiswa dalam Mempelajari Bahasa Arab

Tidak sedikit mahasiswa merasa bahwa belajar bahasa Arab sulit.
Kesulitan ini biasanya muncul karena:

  • Kurang konsistensi dalam latihan membaca dan menulis.
  • Tidak membiasakan diri berbicara dalam bahasa Arab.
  • Belum memahami manfaat langsungnya.

Solusinya:

  • Mulailah dari percakapan sederhana sehari-hari.
  • Gunakan media digital interaktif seperti Duolingo Arabic, Madinah Arabic, atau YouTube pengajaran bahasa Arab.
  • Ikuti halaqah lughah (kelompok belajar bahasa) di kampus untuk latihan bersama.

8. Bahasa Arab dan Relevansinya di Dunia Modern

Bahasa Arab kini bukan hanya bahasa agama, tetapi juga bahasa internasional.
Lebih dari 20 negara menggunakan bahasa Arab, dan ia menjadi salah satu bahasa resmi PBB.
Bagi mahasiswa, menguasai bahasa Arab membuka peluang:

  • Studi ke Timur Tengah.
  • Riset keilmuan Islam dari sumber primer.
  • Karier di bidang pendidikan, diplomasi, dan penerjemahan.

Dengan kata lain, bahasa Arab adalah bekal dunia dan akhirat.


Penutup

Bahasa Arab adalah jembatan antara hamba dan Tuhannya, antara penuntut ilmu dan wahyu.
Siapa pun yang menguasainya akan memahami Al-Qur’an lebih dalam, mencintai Rasulullah lebih kuat, dan berdakwah dengan lebih bijak.
Bagi mahasiswa STIQ As-Sunnah, menguasai bahasa Arab bukan sekadar kurikulum, tetapi jalan menuju ilmu, iman, dan kemuliaan.

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *